Senin, 22 Juni 2009

Susrama Ikut Bantai Prabangsa

Rekontruksi pembunuhan wartawan Radar Bali hari ini digelar di Bangli. Dalam rekontruksi ini terungkap, adik Bupati Bangli, I Nyoman Susrama, yang sebelumnya diduga menjadi otak pembunuhan, ternyata ikut menjadi eksekutor, memukuli kepala almarhum Prabangsa bersama tersangka lainnya hingga tewas. Adegan rekontruksi pembunuhan Agung Prabangsa ini terdiri dari 32 adegan. Rekontruksi yang disaksikan ribuan warga ini menghadirkan seluruh tersangka yang berjumlah sembilan orang. Adegan rekontruksi dimulai dari depan rumah orang tua almarhum Prabangsa di Desa Tamanbali Bangli. Pada adegan di depan rumah orang almarhum ini, diperagakan adegan penjemputan almarhum Prabangsa oleh beberapa orang tersangka. Setelah sempat berbincang beberapa saat, almarhum kemudian dibawa para tersangka dengan mobil sedan menuju rumah Nyoman Susrama, di Banjar Petak, Desa Bebalang, Bangli. Di rumah ini, Susrama yang diduga menjadi otak pembunuhan ini sudah menunggu almarhum Prabangsa. Almarhum yang sudah mendapat siksaan di dalam mobil penjemput selanjutnya dibawa ke halaman belakang rumah Susrama. Di halaman belakang, aksi penyiksaan terhadap almarhum Prabangsa terus berlanjut. Para tersangka secara bergantian memukuli kepala korban baik dengan tangan kosong maupun balok kayu. Selain memerintahkan pembunuhan terhadap almarhum, Nyoman Susrama juga ikut memukuli korban baik dengan tangan kosong maupun dengan balok kayu hingga tewas. Setelah tewas jenazah korban kemudian dibawa ke dalam sebuah kamar untuk dibungkus dengan plastik sampah. Korban selanjutnya dibawa ke pantai di depan Goa Lawah Klungkung, dan selanjutnya dibuang ke tengah laut dengan menggunakan perahu motor. "Ini bukan sadis lagi, tapi keji. Semua pelaku harus dihukum seberat-beratnya," kata salah seorang warga, Nyoman Subrata. Meski telah menetapkan sembilan orang tersangka yakni Nyoman Susrama, Nyoman Rencana, Komang Gede Wardana, Dewa Sumbawa, Dariatno alias Jampes, Nyoman Suecita alias Maong, Gus Oblong, Komang Gede dan Endy, Hingga kini Polda Bali terus melakukan pendalaman penyelidikan. Dari keterangan para tersangka yang telah diamankan, Polda Bali menyatakan masih ada kemungkinan penambahan tersangka baru. Kasus pembunuhan wartawan Radar Bali Anak Agung Prabangsa ini juga akan menyeret pejabat penting di Kabupaten Bangli. Salah satu pejabat yang akan diperiksa di Polda Bali adalah Bupati Bangli I Nengah Arnawa. Bupati Bangli I Nengah Arnawa akan diperiksa karena mobil kijang yang digunakan untuk membuang mayat korban, diduga merupakan mobil pribadi miliknya. Almarhum Anak Agung Prabangsa ditemukan tewas mengambang di perairan Teluk Bungsil Karangasem Bali pada 16 Februari 2009 lalu. Ia dibunuh karena menulis berita dugaan korupsi senilai Rp 4 milyar di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli. (dev)

Senin, 01 Juni 2009

Adik Bupati Bangli Tersangka Aktor Intelektual Pembunuhan Wartawan Bali

Denpasar: Pihak Kepolisian Daerah Bali akhirnya membeberkan nama para tersangka pembunuh wartawan Radar Bali, Anak Agung Gede Narendra Prabangsa. Kepala Polda Bali Inspektur Jenderal T. Ashikin Husein, Senin (25/5), kepada para wartawan di Mapolda Bali mengatakan para tersangka yang berjumlah tujuh orang tersebut masing-masing I Nyoman Susrama, Komang Gede, Nyoman Rencana, I Komang Gede Wardana alias Mangde, Dewa Sumbawa, Endy, dan Jampes.

Nyoman Susrama, adik Bupati Bangli yang juga pengawas proyek Dinas Pendidikan Bangli, bertindak selaku aktor intelektual pembunuhan tersebut. Dia saat ini juga tercatat sebagai anggota DPRD Bangli yang baru terpilih pada pemilu lalu, namun belum dilantik. Sedangkan Komang Gede yang merupakan akuntan proyek pembangunan TK internasional di Bangli berperan sebagai penjemput korban. Mangde dan Rencana bertindak sebagai eksekutor dan membawa mayat korban ke perairan Padangbai, Karangasem.

Dewa Sumbawa merupakan sopir Susrama, Endy sebagai sopir dan karyawan air minum SITA serta berperan membersihkan darah korban, sementara Jampes berperan membersihkan darah korban. Mereka bertiga tinggal di rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli. "Saat ini mereka telah ditahan di sel tahanan Mapolda Bali," jelas Kapolda.

Setelah memasuki hari ke-100, polisi akhirnya bisa menangkap para tersangka itu pada Minggu (24/5) sore di rumah mereka masing-masing. Selanjutnya pemeriksaan mendalam juga dilakukan di Mapolda Bali.

Penetapan tersangka itu, lanjut Kapolda, didasarkan pada sejumlah bukti dan melalui proses penyelidikan serta penyidikan panjang. Sejumlah barang bukti tersebut di antaranya ceceran darah yang ditemukan di rumah I Nyoman Susrama, mobil Kijang Rover AB 8888 MK warna hijau di mana ditemukan darah pada enam titik, yaitu di kaki jok belakang, karet lis pintu, stop kontak lampu depan, besi bawah kursi, pegangan pintu, dan jok tengah sebelah kanan belakang sopir.

Juga disita mobil sedan Honda Grand Civic DK 322 YD warna hijau muda metalik, celana panjang jeans warna biru, karpet mobil dan karung warna putih. "Tersangka dijerat pasal 338 yo 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Ancaman hukumannya seumur hidup," kata Kapolda Ashikin.

Kronologis penangkapan bermula dari penyelidikan intensif tim penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Polda Bali. Sebelumnya berbagai motif pembunuhan ditelusuri tim penyidik, mulai dari kemungkinan soal perselingkuhan, dendam pribadi, sampai pemberitaan. Namun, berdasarkan barang bukti yang didapatkan, polisi menetapkan motif pembunuhan itu diduga karena sakit hati dengan pemberitaan korban di medianya tentang penyimpangan proyek Dinas Pendidikan di Bangli.

Kapolda mengatakan Prabangsa dieksekusi di rumah Susrama, Banjar Petak, Bebalang, Bangli, pada 11 Februari 2009 sekitar pukul 16.30 sampai 22.30 WITA. "Modusnya korban dibujuk ke tempat kejadian perkara, lalu dieksekusi dengan cara dipukul menggunakan balok kayu, lalu dibuang ke laut melalui Pantai Padangbai," tandasnya.

Pada acara pemaparan kasus dan penetapan tersangka itu, hadir pula istri Prabangsa, Anak Agung Sagung Putu Mas Prihantini, 40, dan kedua anaknya, Anak Agung Istri Sri Hartati, 14, dan Anak Agung Chandra Dwipa, 12.